REVIEW
JURNAL
|
Judul |
Valuasi Ekonomi Hutan
Tele Di Kabupaten Samosir |
|
Jurnal |
economic value of forest |
|
Volume & Halaman |
Volume 5 No. 2 |
|
Tahun |
2014 |
|
Penulis |
Oleh : Dharma Yoga Putra Simbolon1 , Yunus Afifuddin2 , Siti Latifah2 |
|
Reviewer |
Rezky Nizar siregar .NIM : 181201164 |
|
Tanggal |
3 Desember 2020 |
|
Tujuan Penelitian |
Menganalisis valuasi ekonomi hutan di wilayah
Tele, Desa Partungkonaginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir |
|
Subjek Penelitian |
pemanfaatan dan perlindungan hutan Tele |
|
Metode Penelitian |
Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan
pengukuran langsung di lapangan untuk mengetahui nilai ekonomi hutan dan
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode pengambilan sampel
dilakukan dengan cara Purposive Sampling (sampel bertujuan). Untuk menentukan
jumlah sampel pada penelitian digunakan metode Slovin (Sevilla, 2007) sebagai berikut : n = N /N.d²
+ 1. Dimana : n : jumlah sampel N : jumlah
populasi (204 KK) d : tingkat kesalahan (tingkat kesalahan 15%, dengan
tingkat kepercayaan 85%) Dengan mengambil tingkat kesalahan (d) 15 % dan
jumlah populasi (N) 204 KK, maka didapatkan jumlah sampel (n) sebanyak 36 KK. A. Menghitung Nilai Guna Langsung. perhitungan
ini dilakukan untuk mengetahui nilai manfaat dari hasil hutan yang digunakan
secara langsung dan mempunyai nilai pasar. Pendekatan yang digunakan adalah
metode harga pasar (market price) dan metode harga barang subtitusi
(pengganti) atau harga barang yang sama di daerah lain. Nilai manfaat
langsung ini berupa nilai hasil hutan kayu dan non kayu |
|
Hasil Penelitian |
A. Nilai Guna
Langsung 1. Metode Harga Pasar Hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat
sekitar Hutan Tele adalah sebanyak 3 jenis yaitu kayu bakar, anggrek dan
andaliman. Total pengambilan yang dimanfaatkan secara langsung oleh
masyarakat dapat 60 Kg/tahun. Hasil perhitungan nilai guna
langsung dengan menggunakan metode harga pasar terhadap beberapa komoditi
hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan Tele dapat Rp 29.400.000 Sebagian
besar masyarakat mengambil kayu bakar dari hutan Tele hanya untuk dikonsumsi
sendiri sebagai bahan bakar untuk memasak di rumah dan sebagian
kecil ada juga yang mengambil kayu bakar untuk dijual Komoditi
anggrek dimanfaatkan oleh masyarakat yang diambil dari hutan untuk ditanam di
pekarangan rumah, selain itu dapat dijual apabila kondisi anggrek dilihat
baik atau memiliki nilai jual atau memiliki nilai estetika yang dipandang
menjanjikan. Demikian juga dengan komoditi andaliman masyarakat mengambilnya
dengan tujuan untuk dikonsumsi sendiri atau bila harga andaliman sedang naik
maka akan dijual ke pasar. Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) adalah bumbu
masak khas Asia yang berasal dari kulit luar buah. |
|
Kekuatan |
Dengan demikian dari hasil perhitungan Nilai Ekonomi Total Hutan Tele Nilai ekonomi total hutan Tele adalah
sebesar Rp. 806.357.253.000/tahun atau Rp. 11.962.692/tahun/hektar. Nilai
ekonomi total ini diperoleh dari hasil menjumlahkan nilai guna langsung
sebesar Rp. 29.400.000/tahun dengan nilai guna tidak langsung yaitu nilai air
rumah tangga sebesar Rp. 63.360.000/tahun dan nilai air irigasi sebesar Rp.
14.013.262.600/tahun, nilai penyerapan karbon sebesar Rp.
784.605.840.000/tahun, nilai pilihan sebesar Rp. 7.643.840.400 serta nilai
keberadaaan dengan metode kesediaan membayar sebesar Rp. 1.550.000/tahun. Perincian
ini seperti tertera pada Tabel 6 beriku dan diperoleh
nilai total air untuk irigasi di wilayah Tele adalah sebesar Rp.
14.013.262.600 / tahun. Nilai ini menunjukkan bahwa air dari hutan Tele
merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi irigasi pertanian
masyarakat. |
|
Kelemahan |
1.
Perihal
pengetahuan tentang manfaat hutan sebagai sumber air, pencegah erosi dan
bencana alam lainnya, hampir semua dari masyarakat di sekitar hutan Tele
mengetahui akan manfaat manfaat, namun tetap saja sebagian besar dari mereka
enggan bahkan tidak bersedia membayar. Masyarakat tetap beranggapan bahwa
yang dikatakan memanfaatkan itu ialah mengambil hasil hutan secara langsung,
sementara untuk manfaat tidak langsung itu tidak perlu diperhitungkan
nilainya. 2.
Akses yang masih terbatas
adalah salah satu faktor penghambat hubungan ekonomi 3.
Diperlukan
perhatian lebih terhadap daerah kawasan hutan khususnya di daerah sekitar
Danau Toba, karena pengelolaan kawasan hutan yang baik dapat menjaga
kelestarian daerah sekitar Danau Toba dan biodiversitas yang terkandung di
dalamnya. Masyarakat setempat, pemerintah daerah, dan badan atau LSM lainnya
diharapkan dapat berperan serta di dalam menjaga keberlangsungan dan
kelestarian daerah sekitar Danau Toba. |
|
Kesimpulan |
1. Nilai ekonomi total hutan Tele adalah sebesar
Rp. 806.357.253.000/tahun atau Rp. 11.962.692/tahun/hektar. 2. Nilai-nilai ekonomi yang terdapat di hutan Tele
adalah manfaat hutan langsung berupa kayu bakar, anggrek, andaliman dan
manfaat hutan tidak langsung berupa nilai air rumah tangga, nilai air
irigasi, nilai penyerapan karbon serta nilai pilihan dan nilai keberadaan. |
No comments:
Post a Comment