Thursday, December 3, 2020

Review jurnal Valuasi ekonomi hutan

 

REVIEW JURNAL

 

Judul

Valuasi Ekonomi Hutan Tele Di Kabupaten Samosir

Jurnal

economic value of forest

Volume & Halaman

Volume 5 No. 2

Tahun

2014

Penulis

Oleh : Dharma Yoga Putra Simbolon1 , Yunus Afifuddin2 , Siti Latifah2

Reviewer

Rezky Nizar siregar .NIM : 181201164

Tanggal

3 Desember 2020

 

Tujuan Penelitian

Menganalisis valuasi ekonomi hutan di wilayah Tele, Desa Partungkonaginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir

Subjek Penelitian

pemanfaatan dan perlindungan hutan Tele

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan pengukuran langsung di lapangan untuk mengetahui nilai ekonomi hutan dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive Sampling (sampel bertujuan). Untuk menentukan jumlah sampel pada penelitian digunakan metode Slovin (Sevilla, 2007) sebagai berikut : n = N /N.d² + 1. Dimana : n : jumlah sampel N : jumlah populasi (204 KK) d : tingkat kesalahan (tingkat kesalahan 15%, dengan tingkat kepercayaan 85%) Dengan mengambil tingkat kesalahan (d) 15 % dan jumlah populasi (N) 204 KK, maka didapatkan jumlah sampel (n) sebanyak 36 KK. A. Menghitung Nilai Guna Langsung. perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui nilai manfaat dari hasil hutan yang digunakan secara langsung dan mempunyai nilai pasar. Pendekatan yang digunakan adalah metode harga pasar (market price) dan metode harga barang subtitusi (pengganti) atau harga barang yang sama di daerah lain. Nilai manfaat langsung ini berupa nilai hasil hutan kayu dan non kayu

Hasil Penelitian

A. Nilai Guna Langsung 1. Metode Harga Pasar Hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar Hutan Tele adalah sebanyak 3 jenis yaitu kayu bakar, anggrek dan andaliman. Total pengambilan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat dapat 60 Kg/tahun. Hasil perhitungan nilai guna langsung dengan menggunakan metode harga pasar terhadap beberapa komoditi hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan Tele dapat Rp 29.400.000 Sebagian besar masyarakat mengambil kayu bakar dari hutan Tele hanya untuk dikonsumsi sendiri sebagai bahan bakar untuk memasak di rumah dan sebagian kecil ada juga yang mengambil kayu bakar untuk dijual Komoditi anggrek dimanfaatkan oleh masyarakat yang diambil dari hutan untuk ditanam di pekarangan rumah, selain itu dapat dijual apabila kondisi anggrek dilihat baik atau memiliki nilai jual atau memiliki nilai estetika yang dipandang menjanjikan. Demikian juga dengan komoditi andaliman masyarakat mengambilnya dengan tujuan untuk dikonsumsi sendiri atau bila harga andaliman sedang naik maka akan dijual ke pasar. Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) adalah bumbu masak khas Asia yang berasal dari kulit luar buah.

Kekuatan

Dengan demikian dari hasil perhitungan Nilai Ekonomi Total Hutan Tele Nilai ekonomi total hutan Tele adalah sebesar Rp. 806.357.253.000/tahun atau Rp. 11.962.692/tahun/hektar. Nilai ekonomi total ini diperoleh dari hasil menjumlahkan nilai guna langsung sebesar Rp. 29.400.000/tahun dengan nilai guna tidak langsung yaitu nilai air rumah tangga sebesar Rp. 63.360.000/tahun dan nilai air irigasi sebesar Rp. 14.013.262.600/tahun, nilai penyerapan karbon sebesar Rp. 784.605.840.000/tahun, nilai pilihan sebesar Rp. 7.643.840.400 serta nilai keberadaaan dengan metode kesediaan membayar sebesar Rp. 1.550.000/tahun. Perincian ini seperti tertera pada Tabel 6 beriku dan diperoleh nilai total air untuk irigasi di wilayah Tele adalah sebesar Rp. 14.013.262.600 / tahun. Nilai ini menunjukkan bahwa air dari hutan Tele merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi irigasi pertanian masyarakat.

Kelemahan

1.   Perihal pengetahuan tentang manfaat hutan sebagai sumber air, pencegah erosi dan bencana alam lainnya, hampir semua dari masyarakat di sekitar hutan Tele mengetahui akan manfaat manfaat, namun tetap saja sebagian besar dari mereka enggan bahkan tidak bersedia membayar. Masyarakat tetap beranggapan bahwa yang dikatakan memanfaatkan itu ialah mengambil hasil hutan secara langsung, sementara untuk manfaat tidak langsung itu tidak perlu diperhitungkan nilainya.

2.   Akses yang masih terbatas adalah salah satu faktor penghambat hubungan ekonomi

3.   Diperlukan perhatian lebih terhadap daerah kawasan hutan khususnya di daerah sekitar Danau Toba, karena pengelolaan kawasan hutan yang baik dapat menjaga kelestarian daerah sekitar Danau Toba dan biodiversitas yang terkandung di dalamnya. Masyarakat setempat, pemerintah daerah, dan badan atau LSM lainnya diharapkan dapat berperan serta di dalam menjaga keberlangsungan dan kelestarian daerah sekitar Danau Toba.

Kesimpulan

1. Nilai ekonomi total hutan Tele adalah sebesar Rp. 806.357.253.000/tahun atau Rp. 11.962.692/tahun/hektar.

2. Nilai-nilai ekonomi yang terdapat di hutan Tele adalah manfaat hutan langsung berupa kayu bakar, anggrek, andaliman dan manfaat hutan tidak langsung berupa nilai air rumah tangga, nilai air irigasi, nilai penyerapan karbon serta nilai pilihan dan nilai keberadaan.

No comments:

Post a Comment

Review jurnal Valuasi ekonomi hutan

  REVIEW JURNAL   Judul V aluasi Ekonomi Hutan Tele Di Kabupaten Samosir Jurnal economic valu...